Puisi Pendidikan Anak: Children Learn What They Live dan Terjemahan Indonesianya

Desember 18, 2017 0



Puisi pendidikan anak usia dini yang paling fenomenal sepanjang sejarah barangkali adalah “Children Learn What They Live” yang ditulis Dorothy Law Nolte. Posting kali ini akan menjajarkan puisi aslinya dan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan seorang sarjana Indonesia, Jalaluddin Rakhmat.

Salah satu bukti dari fenomenalnya puisi ini adalah bahwa setidaknya sampai tahun 1998, puisi ini telah diterjemahkan dalam 35 bahasa dan jumlahnya barangkali terus berta
mbah.

Puisi pendidikan anak ini mampu merangkum segi-segi yang perlu diperhatikan dalam pendidikan anak (usia dini) dengan ungkapan sehari-hari yang sangat familiar, sederhana, padat, namun sangat menuntut kerja keras bila akan dipraktikkan.

Puisi pendidikan yang sudah menjadi karya klasik ini sebenarnya ditulis pada tahun 1954 untuk koran Torrance Herald di Southern California, di mana Dorothy sendiri adalah salah satu kolumnisnya. Setelah dimuat di surat kabar itu, puisi ini menjadi sangat terkenal dan dapat ditemukan di mana-mana.

Ironisnya, seperti halnya puisi sastrawan Indonesia yang dibahas terdahulu, pada waktu itu banyak juga yang tidak tahu siapa penulis puisi pendidikan yang sangat dalam ini, sehingga banyak yang mencantumkan “Author Unknown” maupun “Anonymous”. Ada juga yang mengubah dan memodifikasi baris-baris di dalamnya tanpa meminta izin penulisnya terlebih dahulu. Bahkan dalam menulis 100 Ways to Enhance Self-concept in the Classroom: A handbook for teachers and parents(Boston: Allyn & Bacon, 1976), Jack Canfield (yang kelak juga menulis best-seller Chicken Soup for the Soul) sepertinya tertipu karena memasukkan puisi yang ternyata sudah dimodifikasi orang.

Sang Maestro puisi pendidikan

Dorothy Law Nolte, Ph.D, penulis puisi pendidikan ini, adalah seorang pendidik dan ahli konseling keluarga. Nama aslinya adalah Dorothy Louise. Dalam kebudayaan Barat pada umumnya, bila seorang perempuan menikah maka ia akan menggunakan nama belakang dari nama keluarga sang suami.

Nah, dalam kasus Dorothy, Law adalah nama keluarga dari suami pertamanya, Durwood Law. Sementara itu, Nolte adalah nama keluarga dari suami kedua, Claude Nolte. Untuk ukuran Amerika, memakai nama keluarga milik suami pertama dan kedua sekaligus seperti ini sebenarnya kurang lazim. Tapi begitulah mungkin cara Dorothy mempertahankan kejelasan sejarah hidupnya.

Puisi tulisan Dorothy itu, setelah kemunculan pertamanya di koran pada tahun 1954, menjadi sangat terkenal dan direproduksi di mana-mana. Yang paling spektakuler adalah ketika salah satu divisi Abbott Laboratories, Inc., sebuah perusahaan multinasional, mencantumkan puisi itu (serta 10 macam terjemahannya untuk 10 negara tujuan pemasaran yang berbeda) di kemasan produk nutrisi bayi yang terdistribusikan di seluruh dunia tanpa memberi royalti apa-apa kepada penulisnya. 

Dorothy sendiri baru mengurus hak intelektual atas puisi itu tahun 1972 namun tetap mengizinkan Abbott untuk terus menggunakan puisi itu secara cuma-cuma.

Dalam sejarahnya, puisi ini sempat direvisi dua kali oleh penulisnya. Pertama, pada awal tahun 1980-an, Dorothy mengubah pronomina tunggal menjadi jamak agar netral, karena bahasa Inggris termasuk bahasa yang berjender (membedakan nomina-pronomina feminin dan maskulin). Pada awalnya, nomina “anak” dan pronominanya dalam puisi ini berbentuk tunggal: “If a child lives with ..., he learns ....” Untuk menetralisir isu gender dalam puisi itu, kemudian digantilah pronomina untuk proposisi dasar puisi itu secara keseluruhan menjadi plural (jamak): “If children live with ..., they learn ... .” (Catatan: Dalam hal sensitivitas gender ini, bahasa Indonesia telah jauh lebih maju)

Perubahan kedua adalah dengan memecah baris tertentu yang terlalu panjang dan kompleks menjadi dua baris, serta menambahkan baris baru seiring perkembangan yang membawa situasi-situasi baru yang perlu direspons. Demikianlah, puisi yang awalnya terdiri dari 14 baris itu kini menjadi 19 baris.
Pada tahun 1998 Dorothy menjabarkan puisi itu menjadi sebuah buku yang terdiri dari 19 bab (sesuai jumlah baris dalam puisi). Buku ini ditulis bersama Rachel Harris, dan diberi judul Children Learn What They Live: parenting to inspire values, diterbitkan oleh Workman Publishing Company, New York. Buku ini diberi kata pengantar oleh penulis buku Chicken Soup for the Soul, Jack Canfield, yang –menurut pengakuannya sendiri– ternyata sangat dipengaruhi oleh puisi Dorothy ini.

Sebelum kepergiannya tahun 2005 pada usia 81 tahun, Dorothy Law Nolte telah sempat merampungkan buku yang kedua tentang pendidikan dan pengasuhan remaja, yang juga disusun berdasarkan pola buku pertama. Buku ini diberi judul Teenagers Learn What They Live: parenting to inspire integrity and independence, terbit tahun 2002.

Puisi Pendidikan itu...

Puisi pendidikan karya Dorothy Law Nolte ini diambil dari halaman vi dari buku Children Learn What They Live: parenting to inspire values yang disebutkan tadi.

Children Learn What They Live
If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.

Terjemahan Indonesia

Berikut ini adalah terjemahan yang diberikan oleh Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam Aktual; refleksi-sosial seorang cendekiawan Muslim (Bandung: Mizan, Cet. X, 1998, hal. 187).
Anak-anak Belajar dari Kehidupannya
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Sedikit catatan

Bila kita perhatikan, ada beberapa baris yang hilang pada terjemahan puisi pendidikan anak tersebut. Sementara puisi aslinya terdiri dari 19 baris, puisi terjemahan Kang Jalal baru mencakup 11 baris, sehingga secara keseluruhan ada selisih 8 baris. Nampaknya, puisi yang sampai ke tangan Kang Jalal pada waktu itu adalah puisi yang sudah “dimodifikasi oleh orang lain” sebagaimana sudah disinggung di atas.

Pernyataan Dorothy Law Nolte sendiri dalam pengantar bukunya (1998: xiii-ix) itu dapat mengafirmasi kemungkinan ini, yaitu bahwa sebelum ia tambahkan baris terakhir itu, memang sudah ada orang yang menambahkan satu baris terakhir pada puisi itu: “If children live with acceptance and friendship, they learn to find love in the world”. Kalau kita perhatikan puisi terjemahannya, tepat seperti itulah maksud yang ingin disampaikan baris “selundupan” dalam puisi ini: “Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.” (Tentang ketidaksetujuan Dorothy terhadap isi baris "selundupan" ini, Anda dapat membacanya di bagian pengantar buku Children Learn What They Live: parenting to inspire values.)

Apalagi, kalau kita ingat bahwa tulisan Kang Jalal dalam buku itu (termasuk tulisan tentang puisi Dorothy Law Nolte) awalnya merupakan tulisan-tulisan di kolom berbagai harian dan majalah sebelum tahun 1990 yang dikumpulkan dan diterbitkan penyuntingnya tahun 1991 (cetakan pertama). Sementara itu, versi final dari puisi “Children Learn What They Live” baru muncul pada tahun 1998. Jadi, wajar bila memang ada yang hilang dari puisi yang diterjemahkan Kang Jalal waktu itu. Atau mungkin saya saja yang sok tahu. Entahlah...

Hal berikutnya yang juga harus diperhatikan adalah penerjemahan dari jamak ke tunggal. Untuk yang satu ini kita hanya bisa berspekulasi. Bisa jadi memang yang diterjemahkan Kang Jalal itu versi sebelum dirubah sendiri oleh penulisnya (“If a child lives with ..., he learns ....”) Bisa juga, Kang Jalal melakukan singularisasi, dengan menerjemahkan “If children live with ..., they learn ... ” menjadi “Jika anakdibesarkan dengan ..., ia belajar ... .”

Sebagaimana disinggung di atas, singularisasi ini justru menghindarkan puisi terjemahan itu dari bias jender, yang kehadirannya dalam bahasa Inggris dihindari oleh Dorothy melalui bentuk plural. Puisi terjemahan itu diuntungkan karena bahasa Indonesia tidak mengenal nomina-pronomina berjender. Dari segi bentuk, singularisasi ini akan mempersingkat baris puisi dengan menghindari penggunaan kata ulang (anak-anak) dan pronomina yang lebih panjang (mereka). Dari segi makna pun, penerjemahan demikian itu masih dapat diterima, bahkan justru lebih efektif.

Apa pun, yang jelas dari segi penerjemahan, puisi terjemahan Kang Jalal itu sangat mengena. Kita pun masih bisa meraba-raba, baris mana saja yang hilang dari puisi terjemahan itu. Sebagai penulis kawakan dan komunikator ulung, nampaknya Kang Jalal memang berhasil mengolah pesan puisi itu dalam bahasa aslinya untuk kemudian secara sangat lugas tapi cermat disampaikan dalam bahasa audiens-nya. Coba bandingkan baris yang berikut:
If children live with fairness, they learn justice.

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Luar biasa!!

Akhir kata...

Itulah puisi pendidikan anak usia dini yang isinya perlu kita renungkan. Sudahkah kita menghindari sikap-sikap negatif yang akan menghancurkan karakter anak kita? Sejauh mana kita telah memperlakukan anak-anak kita secara positif sebagaimana puisi Dorothy Nolte yang diterjemahkan Kang Jalal itu...

Pohon Subur Karena di Tanah Yang Subur

Desember 18, 2017 0

Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia bersifat primer dan fundamental. Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orangtuanya.

Perkembangan anak pada umumnya meliputi keadaan fisik, emosional sosial dan intelektual. Bila kesemuanya berjalan secara harmonis maka dapat dikatakan bahwa anak tersebut dalam keadaan sehat jiwanya.

Dalam perkembangan jiwa terdapat periode-periode kritik yang berarti bahwa bila periode-periode ini tidak dapat dilalui dengan harmonis maka akan timbul gejala-gejala yang menunjukkan misalnya keterlambatan, ketegangan, kesulitan penyesuaian diri kepribadian yang terganggu bahkan menjadi gagal sama sekali dalam tugas sebagai makhluk sosial untuk mengadakan hubungan antar manusia yang memuaskan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang di lingkungannya.

Keluarga merupakan kesatuan yang terkecil di dalam masyarakat tetapi menepati kedudukan yang primer dan fundamental, oleh sebab itu keluarga mempunyai peranan yang besar dan vital dalam mempengaruhi kehidupan seorang anak, terutama pada tahap awal maupun tahap-tahap kritisnya.
Keluarga yang gagal memberi cinta kasih dan perhatian akan memupuk kebencian, rasa tidak aman dan tindak kekerasan kepada anak-anaknya. Demikian pula jika keluarga tidak dapat menciptakan suasana pendidikan, maka hal ini akan menyebabkan anak-anak terperosok atau tersesat jalannya.

Masa remaja awal merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar antara 13 sampai 16 tahun atau yang biasa disebut dengan usia belasan yang tidak menyenangkan, dimana terjadi juga perubahan pada dirinya baik secara fisik, psikis, maupun secara sosial (Hurlock, 1973). Pada masa transisi tersebut kemungkinan dapat menimbulkan masa krisis, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Pada kondisi tertentu perilaku menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang mengganggu (Ekowarni, 1993). Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat keperibadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma yang ada di masyarakat yang biasanya disebut dengan kenakalan remaja.


Keluarga dan Peranannya dalam Pembentukan Kepribadian Anak

Keluarga yaitu yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ayah dan ibu secara ideal tidak terpisah tetapi bahu membahu dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai orang tua dan mampu memenuhi tugas sebagai pendidik. Tiap eksponen mempunyai fungsi tertentu.

Dalam mencapai tujuan keluarga tergantung dari kesediaan individu menolong mencapai tujuan bersama dan bila tercapai maka semua anggota mengenyam “apakah peranan masing-masing”

Peranan ayah :
1. Sumber kekuasaan, dasar identifikasi.
2. Penghubung dengan dunia luar.
3. Pelindung terhadap ancaman dari luar.
4. Pendidik segi rasional.

Peranan Ibu :
1. Pemberi aman dan sumber kasih sayang.
2. Tempat mencurahkan isi hati.
3. Pengatur kehidupan rumah tangga.
4. Pembimbing kehidupan rumah tangga.
5. Pendidik segi emosional.
6. Penyimpan tradisi.

Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orang tuanya.

Dasar pemikiran dan pertimbangannya adalah sebagai berikut :

Keluarga adalah tempat perkembangan awal seorang anak, sejak saat kelahirannya sampai proses perkembangan jasmani dan rohani berikutnya. Bagi seorang anak, keluarga memiliki arti dan fungsi yang vital bagi kelangsungan hidup maupun dalam menemukan makna dan tujuan hidupnya.
Untuk mencapai perkembangannya seorang anak membutuhkan kasih sayang, perhatian dan rasa aman untuk berlindung dari orang tuanya. Tanpa sentuhan manusiawi itu anak akan merasa terancam dan penuh rasa takut.

Keluarga merupakan dunia keakraban seorang anak. Sebab dalam keluargalah dia mengalami pertama-tama mengalami hubungan dengan manusia dan memperoleh representasi dari dunia sekelilingnya. Pengalaman hubungan dengan keluarga semakin diperkuat dalam proses pertumbuhan sehingga melalui pengalaman makin mengakrabkan seorang anak dengan lingkungan keluarga. Keluarga menjadi dunia dalam batin anak dan keluarga bukan menjadi suatu realitas diluar seorang anak akan tetapi menjadi bagian kehidupan pribadinya sendiri. Anak akan menemukan arti dan fungsinya.

Dalam keluarga seorang dipertalikan dengan hubungan batin yang satu dengan lainnya. Hubungan itu tidak tergantikan Arti seorang ibu tidak dapat dengan tiba-tiba digantikan dengan orang lain.
Keluarga dibutuhkan seorang anak untuk mendorong, menggali, mempelajari dan menghayati nilai-nilai kemanusiaan, religiusitas, norma-norma dan sebagainya. Nilai-nilai luhur tersebut dibutuhkan sesuai dengan martabat kemanusiaannya dalam penyempumaan diri.

Pengenalan di dalam keluarga memungkinkan seorang anak untuk mengenal dunia sekelilingnya jauh lebih baik. Hubungan diluar keluarga dimungkinkan efektifitasnya karena pengalamannya dalam keluarga.

Keluarga merupakan tempat pemupukan dan pendidikan untuk hidup bermasyarakat dan bernegara agar mampu berdedikasi dalam tugas dan kewajiban dan tanggung jawabnya sehingga keluarga menjadi tempat pembentukan otonom diri yang memiliki prinsip-prinsip kehidupan tanpa mudah dibelokkan oleh arus godaan.

Keluarga menjadi fungsi terpercaya untuk saling membagikan beban masalah, mendiskusikan pokok-pokok masalah, mematangkan segi emosional, mendapatkan dukungan spritual dan sebagainya.
Dalam keluarga dapat terealisasi makna kebersamaan, solidaritas, cinta kasih, pengertian, rasa hormat menghormati clan rasa merniliki.

Keluarga menjadi pengayoman dalam beristirahat, berekreasi, menyalurkan kreatifitas dan sebagainya. Pengalaman dalam interaksi sosial pada keluarga akan turut menentukan pola tingkah lakunya terhadap orang lain dalam pergaulan diluar keluarganya. Bila interksi sosial didalarn kelompok karena beberapa sebab tidak lancar kemungkinan besar interaksi sosialnya dengan masyarakat pada umumnya juga akan berlangsung dengan tidak wajar.

Keluarga mempunyai peranan dalam proses sosialisasi. Demikian pentingnya peranan keluarga maka disebutkan bahwa kondisi yang menyebabkan peran keluarga dalam proses sosialisasi anak adalah sebagai berikut :

Keluarga merupakan kelompok terkecil yang anggotanya berinteraksi to face secara tetap, dalam kelompok demikian perkembangan anak dapat diikuti dengan sesama oleh orang tuanya dan penyesuaian secara pribadi dalam hubungan sosial lebih mudah terjadi.

Orang tua mempunyai motivasi yang kuat untuk mendidik anak karena anak merupakan cinta kasih hubungan suami istri. Motivasi yang kuat melahirkan hubungan emosional antara orangtua dan anak.
Karena hubungan sosial dalam keluarga itu bersifat relatif tetap maka orangtua memainkan peranan sangat penting terhadap proses sosialisasi anak.


Masihkah Pulang ke Rumah Menjadi Kerinduan?

Desember 18, 2017 0

Saya pernah mendengar perkataan, bahwa rumah adalah surga kecil di dunia bila penghuninya hidup harmonis dan damai.

Bahwa hal yang paling membahagiakan seseorang yang sudah berkeluarga adalah ketika pulang ke rumah untuk berkumpul dengan anak dan istri atau suaminya.

Bahwa keluarga adalah tempat di mana kita mengembangkan cinta kasih dalam lingkungan yang paling kecil.

Apa benar keluarga adalah tempat yang paling membahagiakan di dunia ini?
Kita bisa saksikan, pada masa sekarang banyak orang yang sudah memiliki keluarga lebih senang mencari mencari kebahagiaan dan kedamaian di luar. Banyak alasan yang dikemukakan.
Ketika sampai di rumah keluarga sudah terlelap. Saat pagi sudah harus berangkat kerja lagi. Begitu terus berlangsung hidup ini.

Akhirnya akibat sering berada di luar, rumah justru menjadi tempat untuk melampiaskan kekecewaan. Rumah menjadi tempat yang tidak nyaman. Menjadi tempat menumpahkan kemarahan.
Banyak orang membangun rumah bak istana sebagai tempat untuk berkumpul keluarga. Tapi kemudian justru sepi penghuninya. Karena yang menghuni lebih memilih sibuk di luaran dan mencari pengiburan di mana-mana.

Orangtua punya acara sendiri. Anak-anak pun bebas dengan kehidupannya. Paling tidak kemudian anak justru lebih akrab dengan pembantunya.

Kasih sayang ayah dan ibu yang dirindukan hanya menjadi impian. Akhirnya memilih kasih-kasihan untuk menikmati kebahagiaan semu. Ada pula yang menjadikan narkoba sebagai teman setia yang memberikannya kebahagiaan.

Jadi jangan salahkan bila pada jaman sekarang anak-anak lebih rindu mencari kesenangan di luar. Karena mereka tidak mendapatkan hal yang diinginkan di rumah.

Dunia sedang mengalami perubahan yang demikian cepat. Dunia kini menjadi terang-benderang. Malam sudah seakan menjadi siang. Kegelapan malam tiada menghalangi manusia beraktivitas.

Tetapi terangnya dunia tidak ikut menerangi hati manusia. Saat ini hati manusia justru sedang dilanda kegelapan. Tidak lagi bisa dengan jelas membedakan mana yang benar, mana yang salah.

Rumah yang merupakan tempat paling indah untuk berkumpul keluarga mulai dilupaka, sehingga sulit lagi menemukan keharmonisan di rumah.

Bagaimana dengan kita? Apakah rumah masih menjadi tempat untuk pulang mencari kedamaian dan pengiburan? Atau malah sudah lupa rumahnya ada di mana?



Selamatkan Anak-anak Anda Dari Krisis Idola dan Krisis Akhlaq

Desember 18, 2017 0

Pernahkah Anda memerhatikan idola anak-anak kita?… Siapa?… Kebanyakan adalah tokoh-tokoh artis, atlit, bintang film, dan tokoh film kartun. Ada masalah?… Tentu saja, jika mereka sudah terlanjur mengidolakannya, kemungkinan besar akan menutup, mengaburkan dan membuat susah anak muslim untuk mengenal idola mereka yang sebenarnya.

Mengapa Idola Begitu Penting?

Menurut Dr. Sylvia Rimm dalam bukunya, “Why Brigh Kids Get Poor Grades”, bahwa membentuk karakter anak sesuai keinginan tidak bisa dilepaskan dari peran sesosok model yang bisa ditiru.
Lebih dari sekedar model, Islam sebagai sebuah agama telah menawarkan konsep “Sosok Teladan” atau “Idola” untuk memudahkan umatnya dari segala umur agar bisa meniru penerapan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Idola adalah sumber inspirasi: Tidak bisa disangkal bahwa orang akan terinspirasi menjadi orang besar hanya jika ia mengetahui kisah orang-orang yang telah berhasil menjadi besar. Tidak mungkin sebuah generasi Muslim bisa menjadi motor kebangkitan Islam bila mereka tidak mengetahui kehidupan Nabi saw dan para sahabatnya.

Apa jadinya jika anak-anak kita memiliki idola yang salah? Pertama: bena-benak anak yang dangkal dan kosong. Atau hanya diisi dengan budaya hedonisme yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kedua: kisah-kisah lain akan membawa ke idola-idola lain. Idola-idola lain akan membentuk karakter lain.

Kekuatan Kisah

Cobalah lihat. Sebagian besar isi Al Quran berupa kisah. Karena kisah memiliki kekuatan. Begitu juga yang dikatakan Dr Aidh Al Qarni dalam bukunya Hakadza Haddatsana Az Zaman bahwa banyak manfaat yang bisa kita raih jika membaca kisah orang-orang shalih.

Dr. Aidh mengatakan:

“Aku berpesan padamu untuk membaca kisah hidup orang-orang shalih: para sahabat Nabi, tabi’in, ahli ibadah, ahlussunnah Berhentikah sejenak pada kabar-kabar mereka. Dan bacalah perjalanan hidup mereka. Karena itu akan: memompa kekuatan semangatmu, menorehkan kehausan untuk meneladani mereka, atau setidaknya membuatmu malu terhadap dirimu, kepada Tuhanmu saat engkau membandingkan hidup mereka dengan hidup dirimu sendiri.

Maka tadaburilah kisah-kisah mereka. Hiduplah bersama mereka dalam kezuhudan, kewara’an, penghambaan, rasa khauf (takut dalam arti positif) kepada Allah, ketawadhuan, keindahan pekerti dan kesabaran mereka…”

Selamatkan Anak-anak Anda Dari Krisis Idola dan Krisis Akhlaq
Dengan Cara Mengenalkan Idola
Dari Generasi Terbaik.



Empat Tipe Rumah Tangga

Desember 18, 2017 0

Kebahagiaan adalah target utama dalam membina rumah tangga. Bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Apa gunanya menikah dan membangun keluarga, tetapi yang ada hanyalah terasa sesak dada, sengsara penuh derita, dan diri menjadi terpuruk. Justru fitrah manusia itu sesuai dengan fitrah pernikahan yaitu sebagai muara kebahagiaan dan ketenangan hidup. 

Siapapun yang membangun rumah tangga, kaya ataupun miskin, pejabat maupun rakyat, gubernur atau abang bajigur, semuanya adalah berangkat terhadap satu tujuan yaitu mencapai kehidupan yang layak dan membahagiakan. Bagi kita keluarga muslim, selayaknya tujuan hidup difokuskan pada tujuanukhrawi (akhirat) karena tiada manfaat jika di dunia kita senang tapi di akhirat malah sengsara. Baiknya, di dunia kita senang dan bahagia, di akhirat kita bersuka cita meraih surga.

Pada kenyataannya, ada empat tipe keluarga yang bisa kita pelajari dan teladani atau hindari.

Pertama, tipe keluarga Abu Lahab. Keluarga Abu Lahab adalah tipe keluarga yang paling buruk. Pasalnya, suami dan istri, keduanya berada di dalam kemaksiatan kepada Allah. Suami tukang judi, istri pengedar ekstasi. Suami tidak pernah shalat, istri tukang ngumpat. Suami pendusta, istri tukang zina.Na’udzubillah min dzalik. Keluarga tipe ini bukanlah keluarga yang patut kita teladani.

Kedua, tipe keluarga Fir’aun. Suaminya ahli maksiat, istrinya ahli taat. Tipe masih mendingan dibanding dengan tipe pertama karena istrinya dipastikan masuk serga tetapi suami masuk neraka. Namun, apakah sudi suami Anda menjadi nahli neraka sedangkan Anda senang-senang dalam kebahagiaan akhirat (surga)? Saya kira, tidak. Tidak ada istri yang menginginkan suaminya celaka. Jika ada, inilah istri yang buruk di mata agama dan sesama. Maka, ikhtiar meluruskan dan mengarahkan suami yang tidak taat kepada Allah menjadi suat hal yang sangat wajib bagi istri. 

Ketika sudah berikhtiar, hasilnya serahkan kepada Allah. Istri akan terlepas dari dosa tetang hal ini.
Ketiga, tipe keluarga Nabi Nuh a.s.. Suaminya ahli ibadah, istrinya ahli bid’ah. 

Suaminya muwahhid(ahli tauhid), istri musyrikah (ahli syirik). Suami masuk surga, istri ke neraka. Sudikah pula Anda, wahai para suami, melihat istri berada dalam kesengsaraan dan siksa Allah? Jawabnnya harus tidak. Jika tidak “tidak” berarti Anda adalah suami egois. Dan, suami seperti inilah yang nanti akan diminta pertanggungjawaban atas keteledorannya membiarkan istri dalam kemaksiatan dan kemusyrikan. Kecuali jika Anda sudah berusaha, kemudian istri Anda tidak pula berubah, maka Anda tidak didakwa oleh Allah kelak di akhirat layaknya Nabi Nuh a.s..

Keempat, tipe keluarga Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad saw.. Suami dan isri keduanya adalah ahli taat, ahli ibadah, ahli tauhid, ahli sedekah, ahli shalat. Mereka berdua senantiasa saling memerhatikan dan memberi arahan takut-takut terjerembab ke dalam lubang maksiat. Sekali mereka terjerumus ke lembah dosa dan maksiat, mereka segera beristigfar dan meninggalkan dosa yang dikerjakannya. Tobat dengan tobat yang sebenarnya (taubatan nashuha).
Sahabat muslim yang taat, mau memilih tipe yang mana kita? saya yakin, tidak ada pilihan jitu kecuali memilih tipe keluarga yang keempat. Menjadi keluarga selayak keluarga Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad saw.. Oleh karena itu, mari sama-sama berjuang membangun keluarga SAMARA (sakinah, mawaddah, rahmah) sepanang masa.

Kiat-kiatnya, (1) menjadi keluarga berilmu, (2) menjadi keluarga yang menyesuaikan amal dengan ilmu, (3) menjadi keluarga yang saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, dan (4) menjadi keluarga yang senantiasa syukur dan sabar menyikapi kehidupan.


Hadits-Hadits Tentang Pendidikan Anak

Desember 18, 2017 0


حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ كَمَا تَنَاتَجُ الْإِبِلُ مِنْ بَهِيمَةٍ جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّ مِنْ جَدْعَاءَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ مَنْ يَمُوتُ وَهُوَ صَغِيرٌ قَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ (رواه أبو داود)[1]

Artinya :
Menceritakan kepada kami Al-Qa’nabi dari Malik dari Abi Zinad dari Al–A’raj dari Abu Hurairah berkata Rasulullah saw bersabda : “Setiap bayi itu dilahirkan atas fitroh maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasroni sebagaimana unta yang melahirkan dari unta yang sempurna, apakah kamu melihat dari yang cacat?”. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapat tuan mengenai orang yang mati masih kecil?” Nabi menjawab: “Allah lah yang lebih tahu tentang apa yang ia kerjakan”. (H.R. Abu Dawud)

KANDUNGAN HADITS

Setiap anak dilahirkan atas fitrohnya yaitu suci tanpa dosa, dan apabila anak tersebut menjadi yahudi atau nasrani, dapat dipastikan itu adalah dari orang tuanya. Orang tua harus mengenalkan anaknya tentang sesuatu hal yang baik yang harus dikerjakan dan mana yang buruk yang harus ditinggalkan. Sehingga anak itu bisa tumbuh berkembang dalam pedndidikan yang baik dan benar.
Dalam proses pendidikkan anak ini, adakalanya orang tua bersikap keras dalam mendidik anak. Contohnya, pada umur tujuh tahun orang tua mengingatkan anaknya untuk melakukan sholat dan pada saat umur sepuluh tahun, orang tua boleh memukulnya ketika sianak tersebut tidak mengerjakan sholat.

Ketika anak tersebut oleh orang tuanya dijadikan seorang muslim maka anak tersebut harus menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim.
Jadi orang tua itu berperan penuh dalam proses mendidik anaknya, apabila anak itu sampai tidak mengenal agama (mengenal Allah) maka itu merupakan kelalaian orang tua.

كل مولود يولد على الفطرة فأبوه يهودا نه او ينصرانه واويمجسانه (رواه مسلم)

Artinya: “Setiap bayi itu lahir atas kesucian, maka kedua orangtuanya lah yang akan menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi”. (H.R. Muslim)

وعن عمروبن شعيب عن ابيه عن جدهرضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مروااولادكم با الصلاة وهم ابناء سنين واضربوهم عليها وهم ابناء عشر، وفرقوا بينهم فى المضاجع (حديث رواه ابودود با سناد حسن)

Artinya: “Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: perintahkan anak-anakmu untuk melaksanakan shalat, ketika mereka sampai di usia 7 tahun, kemudian pukul mereka karena meninggalkan shalat jika telah sampai usia 10 tahun dan pisahkan diantara mereka di tempat tidurnya”. (H.R. Abu Daud)

عن جا بربن سمرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لأن يؤدب الرجل ولده خير له من ان ينصدق بصاع (رواه الترمذ)

Artinya:“Dari Jubair bin Samurah RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: sungguh bahwa seseorang mendidik anaknya adalah lebih baik daripada ia bersedekah satu sha”. (H.R. Tirmidzi)
“Apabila anak Adam (manusia) mati maka terputuslah amalnya kecuali 3 hal; bersedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya”. (HR. Muslim)